Home / Tanaman Perkebunan / Budidaya Tanaman Cengkeh: Mengenal Gejala Penyakit BPKC pada Cengkeh

Budidaya Tanaman Cengkeh: Mengenal Gejala Penyakit BPKC pada Cengkeh

Cengkeh adalah tanaman asli Indonesia dan berasal dari daerah Maluku. Daerah utama penghasil cengkeh di indonesia saat ini adalah Sulawesi, Jawa, Bali, Maluku, Sumatra dan sedikit di NTB. Cengkeh pada umumnya diusahakan oleh rakyat dalam skala perkebunan rakyat atau perkebunan kecil dengan menggunakan teknologi budidaya yang masih konvensional atau Tradisional.

Kondisi perkebunan cengkeh terutama perkebunan rakyat sudah sangat menurun dibandingkan kondisi pada tahun 80an. Penurunan performa (kondisi) tanaman ini sangat mempengaruhi produktivitas tanaman per hektar nya. Penurunan performa tanaman ini terutama disebabkan oleh pemeliharaan tanaman yang kurang dan adanya serangan penyakit tanaman. Salah satu penyakit Utama tanaman cengkeh adalah Penyakit BPKC atau Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh.

Kondisi Tanaman Cengkeh yang terserang BPKC

Penyakit BPKC merupakan salah satu penyakit yang paling merusak tanaman cengkeh karena dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 10-15%.  BPKC disebabkan oleh bakteri Pseudomonas syzygii. Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh (BPKC) dikenal dengan nama “Penyakit Sumatera” (Sumatera Disease) atau penyakit Mati Bujang atau penyakit Mati Gadis (Reitsma, 1953; Hadiwijaya, 1954) muncul pertama kali tahun 1931, dan menimbulkan eksplosif di Sumatera Barat tahun 1960an (Djafarudin et, al).

Penularan penyakit BPKC dari pohon sakit ke pohon sehat melalui vektor berupa serangga Hindola vulva (di Sumatera) dan H. striata (di Jawa). Serangga Hindola lebih suka hidup di daerah hutan sehingga pola serangan penyakit ini lebih banyak terjadi pada tanaman cengkeh di sekitar hutan. Pola penyebaran penyakit ini umumnya mengikuti arah angin. Penularan penyakit ini dapat pula melalui alat-alat pertanian seperti golok, gergaji, sabit yang digunakan untuk memotong pohon sakit.

Ada 2 tipe gejala serangan Penyakit BPKC yaitu : tipe serangan mati cepat dan mati lambat

A. Mati cepat

  1. Daun – daun akan gugur secara tiba-tiba atau mendadak
  2. Daun gugur mulai dari bagian atas (pucuk) menjalar ke bawah (pankal), terjadi selama beberapa minggu atau bulan.
  3. Kadang- kadang cabang atau seluruh tanaman muda layu secara mendadak, sehingga daun akan mengering dan berwarna coklat tetapi tetap melekat pada pohon (belum gugur) untuk beberapa waktu
  4. Daun-daun yang sudah tua pada umumnya berwarna kekuningan dan cepat gugur
  5. Gugurnya daun akan diikuti dengan matinya ranting pada cabang dekat pucuk atau pucuk itu sendiri
  6. Bila daun yang gugur semakin banyak maka cabang-cabang juga akan terutama cabang bagian pucuk
  7. Beberapa cabang bagian bawah dapat bertahan lama sebelum akhirnya juga akan mati
  8. Tanaman mampu bertahan sekitar 2 tahun sejak permulaan timbulnya gejala
  9. Akar mati sejalan dengan matinya bagian atas pohon.

B. Mati Lambat

  1. Gejala terjadi secara bertahap dan pelan-pelan, seluruh daun menguning lalu gugur bagian demi bagian
  2. Daun dewasa menjadi tua sebelum waktunya, masa gugur daun dapat berganti dengan pulihnya sebagian pohon dan berkembangnya daun muda serta kuncup bunga namun jumlahnya sangat sedikit;
  3. Mati ranting dan mati cabang terjadi di seluruh pohon,
  4. Tanaman mampu bertahan sekitar 3-6 tahun sejak timbulnya gejala
  5. Batang dan akar pohon yang mati secara lambat ini tidak mengeluarkan lendir bakteri jika dilembabkan.

Identifikasi Penyakit BPKC

Identifikasi suatu penyakit bisa dilakukan melalui pengamatan visual di lapangan pada gejala-gejala yang tampak kemudian dilanjutkan dengan melakukan pengujian di laboratorium untuk memastikannya.

Urutan kegiatan untuk menentukan dan memastikan adanya serangan BPKC adalah sebagai berikut :

  1. Gejala Luar : amati pohon yang menunjukkan gejala serangan BPKC yaitu terjadinya daun-daun yang mendadak gugur atau rontok diikuti matinya ranting-ranting pada cabang dekat pucuk tanaman. Daun gugur dari atas mengarah ke bawah, sedangkan cabang-cabang lainnya dapat mati kalau daun-daun makin banyak yang gugur. Cabang mendadak layu sehingga daun akan mengering dan berwarna coklat tetap melekat di cabang/ranting untuk beberapa waktu. Kematian perakaran akan terjadi seiring dengan kematian bagian atas tanaman. Pada tingkat serangan berat dapat menyebabkan kematian. Seluruh pohon akan mati dalam kurun waktu 6 – 24 bulan dari pertama kali timbul gejala.
  2. Gejala dalam : amati sebagian kayu pada pangkal batang yang menunjukkan gejala BPKC yaitu jika kayu dipotong memanjang, sering terlihat garis-garis kelabu kecoklatan, terutama pada akar dan batang.  Ambil beberapa cabang atau ranting sebagai contoh. Jepit bagian ujung cabang atau ranting tersebut maka akan keluar suspense bakteri (ooze) yang berwarna putih kecoklatan.  Lendir bakteri seperti susu juga akan keluar dari potongan akar atau cabang bila bagian tanaman ini disimpan beberapa jam di tempat lembab. Cairan atau lendir akan lebih jelas terlihat bila ujung cabang/ranting tersebut kita masukkan ke dalam air didalam gelas putih. Dari ujung cabang/ranting akan keluar massa cairan seperti susu.
  3. Pemeriksaan laboratorium : Untuk mengamati jaringan pembuluh kayu yang terserang dan memastikan penyebab penyakit. Kalau perlu kita minta dibuatkan biakannya sehingga tingkat kepastian organisme penyebab penyakit menjadi lebih akurat.

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan terkait dengan penyakit BPKC adalah :

  1. Gejala BPKC atau Sumatra diseases jarang terlihat pada tanaman muda yang umurnya kurang dari 3 tahun meskipun tanaman mungkin sudah terinfeksi bibit penyakit
  2. Bila umur tanaman bervariasi atau berbeda-beda maka biasanya tanaman yang berumur paling tua (dan yang paling tinggi) akan terserang lebih dulu
  3. Gejala umum terjadinya serangan BPKC adalah terjadinya gugur daun yang diikuti dengan gejala layu mendadak diikuti dengan kematian yang diawali dengan mengeringnya cabang atau ranting
  4. Tanaman di dataran rendah, sedang atau tinggi akan menunjukkan gejala serangan penyakit BPKC yang sama yaitu kecepatan pertumbuhan berkurang, daun menguning dan suram.
  5. Tanaman di dataran sedang dan tinggi akan mati lebih cepat (sekitar 6 – 10 bulan) daripada tanaman di dataran rendah ( sekitar 10 – 24 bulan).

Demikianlah sedikit ulasan mengenai Penyakit BPKC. Seiring dengan membaiknya harga cengkeh maka pemeliharaan tanaman cengkeh akan sangat penting. Semoga tulisan singkat ini bisa membantu para petani untuk memelihara tanaman cengkehnya.

– See more at: http://cengkeharomatik.blogspot.co.id/2014/04/mengenal-gejala-penyakit-bpkc-pada.html#sthash.DmUCty0p.dpuf  

======

Related:

Budidaya Cengkeh, Penyakit BPKC, Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh, Pengendalian BPKC, Mati Cepat, Mati Lambat, Produktivitas Tanaman Cengkeh, Produksi Cengkeh, Daerah Penghasil Cengkeh.

loading...

Check Also

Deskripsi 7 Varietas Unggul Tembakau Rajangan dan Krosok di Jawa Timur

Deskripsi 7 Varietas Unggul Tembakau Rajangan dan Krosok di Jawa Timur yang tersebar di Madura, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!