Home / Tanaman Perkebunan / Budidaya Tembakau Rajangan di Kabupaten Rembang : Mencetak Uang di Lahan Gersang

Budidaya Tembakau Rajangan di Kabupaten Rembang : Mencetak Uang di Lahan Gersang

Sekilas Tentang Tembakau Rembang

Rembang adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah dan terletak di sepanjang pantai utara. Rembang mempunyai iklim tipe E menurut schmid & Fergusson, dengan 4 Bulan Basah dan 6 Bulan Kering. Curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 1500 – 2000 mm. Dengan curah hujan tersebut diatas maka lahan-lahan perswahan di Kabupaten Rembang didominasi oleh lahan Sawah Tadah Hujan dan Lahan Tegalan.

Budidaya tembakau di Kabupaten Rembang dimulai pada tahun 2010, Sebelumnya banyak lahan sawah tadah hujan dalam kondisi kosong (Bero) pada musim kemarau, antara bulan Mai sampai dengan Oktober. Biasanya petani hanya menanam jagung untuk dipanen pohonnya sebagai pakan ternak atau hanya diolah tanahnya guna penanaman pada musim hujan berikutnya.

Penanaman Tembakau di Kabupaten Rembang dimulai pada tahun 2010. Pada awal penanamannya, hanya ada 10 Ha lahan petani  yang ditanami tembakau. Perkembangan tembakau di Kabupaten Rembang sangat cepat setelah tahun 2012 dan saat ini sudah ada sekitar 4000 Ha tanaman tembakau. Para petani bermitra dengan salah satu suplier perusahaan rokok kretek terkemuka dari jawa timur sehingga pasarnya terjamin.

Jenis Tembakau yang diusahakan petani adalah tembakau Rajangan. Varietas yang digunakan secara umum adalah varietas Serumpung. Varietas ini mempunyai potensi produksi yang cukup bagus yaitu bisa mencapai 2.000 kg/ha tembakau kering. Dengan Pola budidaya dan waktu tanam yang tepat, petani dapat mencetak uang dilahan-lahan  tadah hujan (lahan kering) di musim kemarau. Panduan Budidaya tembakau di Kabupaten Rembang secara singkat diuraikan di bawah ini.

Postur Tembakau Rajangan di Kabupaten Rembang

 Pembibitan

Bibit adalah salah satu bahan yang sangat penting dalam proses budidaya tembakau. Tersedianya bibit yang seragam, sehat dan cukup pada waktu tanam sangat menentukan produktivitas dan kualitas tembakau yang dihasilkan. Beberapa hal penting dalam penyiapan bibit tembakau adalah:

  • Lokasi Bedengan
    1. Ada Sumber air bersih dan bebas naungan
    2. Bukan bekas bedengan tembakau tahun sebelumnya
    3. Bukan bekas tanaman sekeluarga solanaceae seperti tomat, cabai dll
    4. Kebutuhan lahan bedengan sekitar 100 M2 untuk 1 Ha ( 4 bedeng)
    5. Ukuran bedengan : Panjang 25 meter, lebar 100 Cm , tinggi 30 cm dengan jarak antar bedengan 50 cm.

Persiapan lahan bedengan harus tepat

  • Pemupukan Dasar
    1. Pupuk NPK (3 kg/bed) dan furadan (100 gar/bed) disebar merata lalu dibenamkan sedalam ± 5 cm pada 7 hari sebelum sebar
    2. Siram bedengan sampai basah sebelum aplikasi Command (clomazone) setelah sebar pupuk dasar dengan dosis 3 ml/liter atau 45 ml/tangki dan 1 tangki untuk 3 bedengan
    3. Bedengan disiram dengan 10 gembor air agar command (clomazone) masuk dan mengenai biji-biji gulma
    4. Tutup bedengan dengan plastic cover, pastikan bahwa cover plastik dapat menutup bedengan dengan sempurna sehingga membantu terciptanya efek pemanasan matahari di dalam bedengan
  • Bahan dan Peralatan
    1. Plastik cover, plastik putih susu untuk melindungi bedengan dari air hujan
    2. Benih tembakau
    3. Pupuk NPK dan  KNO3
    4. Ridomil MZ
    5. Furadan 3 G
    6. Seeding Boom dan Gembor
    7. Tali benang
    8. Bilah Bambu panjang 220 cm, lebar 3 – 4 cm (12 buah per bedeng)
    9. Sekam padi (1 karung pupuk untuk 2 bedeng)
  • Sebar Benih
    1. Gunakan varietas serumpung (gunakan benih dari gudang)
    2. Kebutuhan benih 2 bks per bed (1,5 gr/bks = 3,0 gr/bed)
    3. Pasang plengkung dan patok, tiap bedengan membutuhkan 25 buah plengkung (250 cm) dan 31 buah patok (25cm)
    4. Bed disiram sampai basah (20 gembor) atau bedengan bisa di leb sehari sebelum sebar
    5. Siram dg ridomil (Mancozeb atau Metanoxam) dosis 3 gram/liter (1 sdm/gembor), 1 gembor per bedengan
    6. 3 hari sebelum sebar harus dilakukan perendaman benih dengan cara sbb :
      • Benih direndam dalam air selama 24 jam dan air harus diganti setiap 6 jam
      • Benih ditiriskan selama 48 jam dan selama proses penirisan benih dijaga jangan sampai kering
      • Saat disebar, benih harus sudah pecah (kelihatan putih-putih)
    7. Benih yang sudah pecah disebar merata pada permukaan bedengan dengan menggunakan seeding boom, dengan cara sebagai berikut :
      • Pasang seeding boom pada gembor dengan benar dan kuat
      • Isi gembor dengan air kira-kira setengahnya
      • Masukkan sedikit sabun cair atau sabun detergen dan aduk-aduk sampai sedikit berbusa
      • Masukkan benih ke dalam gembor sambil disiram air sampai gembornya penuh
      • Sebar benih ke atas permukaan bedengan
    8. Penyebaran bisa dilakukan dua orang, satu orang memegang gembor sambil mengaduk dan satu orang bertugas menjaga kerataan posisi seeding boom dan keluarnya air dari seeding boom
    9. Ulangi penyebaran untuk satu bungkus yang lain dari sisi bedengan yang berbeda

Gunakan seeding boom saat sebar benih agar seragam

  • Sebar sekam merata sbg mulsa (1 sak pupuk urea untuk 2 bed)
  • Siram merata dengan metindo (Indometaxim)  2 gram/liter atau 1 sendok makan per gembor, 1 gembor larutan untuk satu bedengan
  • Tutup bed dg cover bed, pasang benang agar kuat dan tidak terbawa angin.
  1. Penyiraman
    • 0 – 10 HSS :  3 kali sehari 4 gembor
    • 11 – 20 HSS : 2 Kali sehari 6 gembor
    • 21 – 30 HSS : 1 kali sehari 10 gembor
    • > 30 HSS bedengan disiram sesuai kondisi bibit
    • Penyiraman melihat kondisi cuaca
  1. Bukaan Cover
    • 0 – 10 HSS : cover ditutup
    • 11 – 20 HSS : cover dibuka sampai jam 11.00
    • 21 – 30 HSS : Cover dibuka sampai jam 14.00
    • > 30 HSS cover dibuka sampai sore, malam hari ditutup

Management siram dan bukaan cover

  1. Populasi bibit dan Pemeliharaan
    1. Bersihkan rumput dan gulma yang tumbuh di bedengan (umur 14 hari setelah sebar)
    2. Hitung populasi bibit yang tumbuh dengan target: 70 bibit/feet (900 cm²) pada umur 16 hari setelah sebar atau setelah gulma dibersihkan.
    3. Lakukan penjarangan bibit bila populasi lebih dari 70 bibit/feet atau pindahkan bibit yang rapat ke tempat yang jarang sehingga seluruh bedengan Akan rata. Jumlah bibit  yg dihasilkan ± 500 bibit/bed

Populasi (seeding rate) cukup 70 bibit per feet²

  1. Sebagai preventif, dilakukan pengamatan terhadap aktivitas jamur dan Serangga yang menyerang bedengan, sebelum penggunaan CPA dilakukan.
  2. Bedengan disemprot metindo (Indometaxim) bila ada serangan ulat atau hama lainnya, dengan dosis 2 gram/liter  (2 sendok makan per tangki sprayer isi 15 liter)
  3. Pada umur 18 hari setelah sebar bedengan disemprot ridomil (Mancozeb atau Metanoxam) dengan dosis 2 gram/liter atau 2 sendok makan per tangki sprayer isi 15 liter untuk mencegah serangan penyakit busuk batang
  4. Penyemprotan rindomil (Mancozeb atau Metanoxam) selanjutnya dilakukan   bila ada serangan penyakit busuk batang dengan dosis 3 gram/liter atau 3 sendok makan per tangki sprayer ukuran 15 liter
  5. Pada umur 20 hari setelah sebar, bedengan dipupuk dengan KNO3 dengan dosis 250 gram (1 bungkus). Cara pemupukan KNO3 adalah sebagai berikut :
  6. 250 gram pupuk KNO3 dibagi menjadi 6 bagian yang sama
  7. Masukkan 1 bagian pupuk KNO3 dalam 1 gembor air, aduk-aduk sampai semua pupuk larut sempurna
  8. Siramkan merata larutan pupuk tersebut ke permukaan bedengan
  9. Ulangi pekerjaan tersebut, sampai seluruh KNO3 habis
  10. Bilas dengan 12 gembor air agar tidak melekat di daun dan bisa meresap dekat akar
  11. Pada umur 25 hari setelah tanam bibit harus diclipping agar seragam. Cara clipping adalah :
  12. Siapkan peralatan untuk clipping yaitu gunting, keranjang dan larutan sabun
  13. Bersihkan gunting dengan cara mencelupkan gunting ke dalam larutan sabun. Pencelupan gunting harus dilakukan setiap 10 menit
  14. Gunting daun-daun bibit yang menutup daun-daun lainnya.
  15. Kumpulkan potongan daun-daun ke dalam keranjang
  16. Buang potongan daun-daun yang terkumpul jauh dari lokasi bedengan
  17. Clipping selanjutnya dilakukan sesuai kondisi bibit atau bila bibit tumbuh terlalu cepat (pengerasan batang)
  18. Clipping dilakukan sebagai upaya untuk menjaga bibit agar tidak terlalu tinggi bila rencana tanam tertunda karena pada saat persiapan lahan terganggu hujan deras diluar perkiraan dan tanaman padi atau jagung di lahan tersebut yang  tertunda panennya

Clipping akan membuat bibit lebih seragam

  1. Cabut Bibit
    1. Bibit dicabut umur 45 hari setelah tanam
    2. 2 hari sebelum bibit dicabut, bedengan harus disemprot dengan confidor dengan dosis 0.5 gram/liter air (0.5 sendok makan per tangki sprayer)
    3. 1 hari sebelum bibit dicabut, bedengan harus disiram dengan banyak air sampai tanahnya basah (kalau bisa di leb) sehingga bibit mudah dicabut dan akar tidak putus.
    4. Cabut bibit yang standard dan seragam dengan cara pegang daun bibit dan tarik bibit sampai tercabut dan tanahnya terikut sehingga akarnya tidak rusak.
    5. Pilih bibit yang seragam, tinggi bibit 10 – 12 cm, berbatang keras, daun berwarna hijau kekuningan, sehat dan tidak terserang penyakit
    6. Bedengan yang sudah dicabut disiram kembali dengan air sehingga bibit yang tersisa bisa hidup dan tumbuh dengan bagus

Bibit siap dicabut, sehat, seragam, batang keras  dan perakaran bagus

 PERSIAPAN LAHAN

  • Pemilihan Lahan
  1. Pastikan bahwa lahan terpilih bukan bekas tanaman keluarga solanaceae seperti tomat atau cabai.
  2. Akan sangat baik jika lokasi pertanaman dekat dengan lokasi tinggal petani dan sumber tenaga kerja.
  3. Lahan tersebut tidak memiliki riwayat serangan hama penyakit ataupun v
  4. Bersihkan lahan dari sisa-sisa jerami dan buat got keliling san saluran pembuangan agar tanah bisa kering
  5. Pengolahan tanah dilakukan dengan bajak atau cangkul minimal 2 kali dengan kedalaman 15 – 20 cm. Bajak/cangkul I dilakukan 20 hari sebelum tanam, biarkan terbuka dan kering selama 10 – 15 hari kemudian dilakukan Bajak/cangkul II sampai tanah masak dan gembur
  6. Perbaiki got keliling dan saluran pembuangan, terutama got tengah (potong) dan got keliling
  7. Tanah diratakan sehingga tidak ada tempat yang
  8. tergenang air bila terjadi hujan
  • Guludan dan Lubang Tanam
  1. Tanah yang sudah rata dibuat guludan-guludan kasar sekaligus lubang tanam.
  2. Guludan dibuat dengan sistem trame line
  3. Jarak tanam (80 x 60) X 40 cm dengan panjang guludan 10 meter. Populasi tanaman sekitar 35.714 pohon/ha dan populasi efektif sekitar 30.000 pohon/ha
  4. Lubang tanam dibuat dengan cangkul atau tugal.
  5. Gunakan tali bersimpul-simpul agar lurus

Pengolahan Lahan dan Pembuatan Got Keliling

Persiapan lahan yang bagus, bajak 2 kali

PERTANAMAN

  • Penanaman dan Sulam
  1. Bibit dipilih yang sehat, seragam dan standard dengan akar dan tanah cukup banyak
  2. Bibit ditanam dengan sistem basah atau menggunakan katel (lumpur) seperlunya bila dengan sistem kering
  3. Akar ditekan supaya menyatu dengan tanah, segera disiram air bila perlu
  4. Penyulaman segera dilakukan bila ada bibit yang mati, penyulaman tidak boleh dilakukan setelah 7 HST

Tanam Kering dengan cukup air merangsang perakaran

  • Pemupukan dan Dangir/Bumbun
  1. Pemupukan dilakukan dengan cara membenamkan pupuk dekat akar menggunakan cangkul atau tugal pipih
  2. Jenis dan dosis pupuk :
    1. Urea :   50 kg/ha
    2. ZA : 400 kg/ha
    3. SP36 : 250 kg/ha
    4. ZK : 200 kg/ha

Komposisi N, P2O5 dan K2O adalah 107 kg/ha N, 90 kg/ha P2O5 dan 100 kg/ha K2O.

  1. Pemupukan I dilakukan segera setelah tanam, maksimum 5 hari setelah tanam dengan  50 kg/ha Urea (1,6 gr/phn),  200 kg/ha ZA (6,7 gr/phn),  250 kg/ha SP36 (8,3 gr/phn) dan  100 kg/ha ZK (3,3 gr/phn)
  2. Pupuk dibenamkan dekat akar, sekitar 5 cm di kanan kiri pohon (9.95 gr/lubang) dengan menggunakan cangkul atau tugal pipih

Pemupukan I, segera setelah tanam

  • Pendangiran atau pembumbunan ringan dilakukan 3-5 hari setelah pengairan, untuk kepentingan aerasi tanaman. Kondisi tanah harus dijadikan patokan dalam melakukan pendangiran ini.
  • Bumbun II dilakukan segera setelah pengairan I
  • Pemupukan II dilakukan segera setelah pembumbunan I atau maksimum 1  hari sebelum pengairan I dengan  200 kg/ha ZA dan 100 kg/ha ZK
  • Pada umur 10 – 15 hari setelah tanam dilakukan pembumbunan I
  • Stress periode dan Pengairan
  1. Tujuan untuk merangsang perkembangan akar dan
  2. meningkatkan hasil
  3. Lama stress kira-kira 21 hari, Tidak boleh terlalu
  4. lama
  5. Pengairan I dilakukan setelah stress, tinggi
  6. pengairan 1/2 (guludan) bumbun
  7. Pengairan II dilakukan 10 hari setelah pengairan I (30 HST)
  8. Pengairan III dilakukan segera setelah topping, dan tanaman tidak diairi lagi setelah mulai panen sampai selesai panen

Pengairan I setelah stress periode untuk pertumbuhan cepat

Petani tembakau di Kabupaten Rembang biasanya membuat embung sederhana dari kolam yang biasa mereka sebut dengan kolam terpal. Kolam Terpal ini biasanya berukuran 4 x 3 meter dengan kedalaman 0.5 – 0.75 meter. Kolam terpal ini digunakan untuk menampung air Hujan dan diisi dengan menggunakan mobil-mobil tangki. Dengan teknologi kolam terpal ini petani bisa membuat produktif sawah tadah hujan yang biasanya kosong di musim kemarau. 1 Kolam terpal bisa digunakan untuk areal seluas 1000 meter persegi (0.1 Ha)

Kolam Terpal untuk menampung air hujan

  •  Pengendalian Hama dan penyakit Tanaman
  1. Dilakukan secara preventif atau pencegahan
  2. Gunakan alat pelindung diri dan peralatan yang memadai
  3. Routine 1 dilakukan segera setelah tanam, maksimal 7 hari setelah tanam disemprot dengan indometaxim (metindo) dengan dosis 2 gram/liter , 1 ha membutuhkan 0.5 kg metindo setara dengan 250 liter larutan
  4. Pengendalian hama dan penyakit selanjutnya dilakukan apabila d iperlukan dengan menggunakan pestisida organik yaitu nimba dengan dosis 5 ml/liter, 1 ha membutuhkan 2,5 liter nimba setara dengan 500 liter larutan
  5. Pengendalian hama dan penyakit hanya menggunakan Pestisida yang disediakan oleh gudang, jangan mengunakan pestisida yang tidak direkomendasikan seperti curacron, dursban dll
  6. Pengendalian hama dan penyakit tanaman sebaiknya dilakukan secara terpadu yaitu :
    1. Memonitor secara seksama adanya serangan Hama dan Penyakit di area penanaman tembakau dan juga area sekitarnya dengan menjalankan fungsi IPM secara dini.
    2. Jika serangan hama atau penyakit sudah mencapai kurang lebih 10% dari area pertanaman, atau kurang lebih 5% dari area tetapi terjadi di beberapa plot, maka penggunaan CPA adalah hal yang dianjurkan.
    3. Pastikan bahwa hanya CPA yang direkomendasi oleh Perusahaan yang digunakan oleh petani
  • Topping dan Suckering
  1. Tanaman ditopping/dipunggel setelah keluar bunga
  2. Jumlah daun per pohon : 22 – 24 lembar
  3. 2 – 4 lembar daun bibit/pasiran dibuang
  4. Gunakan tamex dengan dosis 20 ml/liter air dan 20 ml larutan per pohon

Gunakan sucker kontrol (Obat Suli/siwilan)

  1. Pemberian tamex dilakukan 7 hari setelah topping dengan cara mengucurkan larutan tamex pada ketiak daun paling pucuk.
  2. Sucker yang sudah lebih dari 1 cm harus dibersihkan lebih dulu
  3. Lakukan sweeping untuk mengatasi sucker yang terlewat/tidak kena tamex
  •  PANEN DAN RAJANG
  1. Panen
    1. Panen sebaiknya dilakukan di pagi hari  dengan cara memanen membelakangi sinar matahari, tidak dengan melawan sinar matahari.
    2. Pastikan bahwa daun yang dipanen tidak enyentuh tanah secara langsung
    3. Pastikan bahwa volume panen sesuai dengan kapasitas tenaga kerja dan fasilitas pasca panen yang tersedia
    4. Panen dilakukan apabila daun sudah menunjukkkan tanda-tanda penuaan dan siap panen yaitu berkurangnya bulu-bulu di daun, gagang sudah memutih dan sudut antara batang dan pangkal daun sudah melebar
    5. 2- 4 lembar daun pasiran tidak dipanen, tetapi dibiarkan mengering di pohon dan dibuat krosok. Krosok daun bawah ini dipanen bila sudah kering, biasanya dipanen terakhir setelah semua daun dipanen.
    6. Panen pertama dilakukan pada umur ± 75 hari setelah tanam, petik 3 lembar daun yang berwarna hijau (semuruh).
    7. Panen kedua dilakukan 7 hari setelah panen pertama, petik 3 lembar daun yang berwarna hijau (semuruh)
    8. Panen ketiga dilakukan 7 hari setelah panen kedua, petik 3 lembar daun yang berwarna hijau kekuningan
    9. Panen ke empat dilakukan 8 hari setelah panen ketiga, petik 3 lembar daun yang berwarna hijau kekuningan

Panen 3 – 4 lembar daun untuk daun bawah

  1. Panen kelima dilakukan 8 hari setelah panen keempat, petik 3 lembar daun yang sudah berwarna kuning (masak)
  2. Panen keenam dilakukan 10 hari setelah panen kelima, petik semua daun yang tersisa yang sudah berwarna kuning (masak). Saat panen harus menggunakan baju lengan panjang, kaos tangan dan pelindung kepala
  • Pemeraman
  1. Setelah panen daun di sortir sesuai tingkat kematangan daun dengan cara mengelompokkan daun menjadi tiga kelompok yaitu hijau,  kuning dan kecoklatan
  2. Daun diatur berjajar dengan posisi berdiri (pangkal batang di bawah) untuk diperam supaya berubah warna
  3. Alas pemeraman memakai sesek / widik, tidak boleh menggunakan bahan plastik (terpal, sak pupuk)
  4. Lama proses pemeraman bergantung pada posisi daun, antara 2 – 4 hari
  • Perajangan dan penjemuran
  1. Gunakan mesin rajang dan proses rajang dilakukan pada pagi hari sehingga pada saat terbit matahari semua proses rajang dan eler sudah selesai
  2. Ketebalan rajangan adalah 1.5 mm
  3. Alas rajang menggunakan sesek / widig, Gunakan nyiru untuk tempat tembakau yang sudah dirajang
  4. Tembakau segera dieler merata di atas widik dengan ketebalan sekitar 1 cm (3 kg per m²)
  5. Jemur tembakau diatas para-para bambu
  6. Tempat rajang, eler dan penjemuran harus bersih.
  7. Jemur tembakau yang sudah dirajang minimal 2 hari (sampai kering)

Gunakan mesin Rajang saat proses perajangan

 

Proses eler harus tipis dan rata

Jemur ditempat terbuka dan dibalik

  •  PENGEBALAN
  1. Persiapan
    1. Daun tembakau yang sudah kering harus dilemaskan dahulu dengan cara diangin-anginkan. Jangan terlalu lembab karena akan merusak mutu dan berjamur
    2. Lipat daun tembakau yang kering dan lemas tersebut lalu masukkan ke dalam kotak pengebalan
  1. Pengebalan
    1. Ukuran kotak pengebalan : 90 x 70 x 60 Cm
    2. Atur posisi daun tembakau kering agar rapi dan tidak rusak

Bal dengan menggunakan katun dari gudang

  1. Daun tembakau tidak boleh terlalu ditekan (dipres). Berat per bal kira-kira 40-50 kg
  2. Bungkus dengan kain katun yang disediakan gudang
  3. Bal-bal yang sudah jadi segera dikirim ke gudang Pembelian

Kalender Tanam

 

=====

Tags:

Tembakau Rajangan Rembang, Budidaya Tembakau di Kabupaten Rembang, Pedoman Budidaya Tembakau, Tembakau Marem, Lahan Kering, Sawah Tadah Hujan, Varietas Serumpung, Kolam Terpal, Kalender Tanam, Budidaya Tembakau Rajangan, Mesin Rajang, Eler Tembakau, Tanam Kering, Tram Line, Jemur Tembakau, Bal Tembakau, Penjualan Tembakau, Topping, Clipping, Cabut Bibit, Lahan Gersang

 

 

loading...

Check Also

Deskripsi 7 Varietas Unggul Tembakau Rajangan dan Krosok di Jawa Timur

Deskripsi 7 Varietas Unggul Tembakau Rajangan dan Krosok di Jawa Timur yang tersebar di Madura, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!