Budidaya Mangga Menggunakan Sistim Jarak Tanam Rapat (UHDP = Ultra High Density Population) untuk Meningkatkan Produktivitas dan Kualitas Buah Mangga

Produktivitas dan Kualitas Buah Mangga bisa ditingkatkan dengan menerapkan sistim jarak tanam rapat (Ultra High Density Population = UHDP) dalam budidaya tanaman mangga. Mangga (Mangifera indica L) berasal dari sekitar perbatasan India dengan Burma dan banyak tumbuh di hutan hujan tropis Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Mangga dibudidayakan untuk diambil buahnya yang termasuk dalam kelompok buah batu (drupa) yaitu buah yang memiliki biji dan daging buah. Buah yang masih muda atau mengkal seringkali dibuat rujak, dibuat campuran sambal atau masakan ikan dan daging. Buah yang matang biasanya digunakan sebagai buah meja, dimakan dalam keadaan segar, dalam bentuk irisan, diblender atau untuk campuran es. Buah mangga juga bisa diolah menjadi manisan mangga, selai mangga, Juice mangga, irisan buah kering, mangga kalengan dan lain-lain.

Ada banyak sekali jenis dan varietas mangga yang bisa ditemukan dan tumbuh baik diwilayah Indonesia. Beberapa varietas mangga yang cukup dikenal di Indonesia antara lain mangga gadung (arumanis), mangga golek, mangga madu, mangga manalagi, mangga cengkir, mangga gedong gincu, Mangga Agrimania, Mangga Garifta dan lain lain. Buah mangga varietas mangga gedong berbentuk bulat, mangga gadung, mangga indramayu dan mangga arumanis berbentuk bulat telur, sedangkan mangga golek bentuk buahnya lonjong memanjang.

Pohon mangga termasuk suku Anarcadiaceae dan dianggap sebagai tanaman peneduh karena memiliki tajuk (kanopi) yang bagus. Tanaman mangga berbentuk pohon dengan tinggi mencapai 10 – 40 meter dengan diameter batang sekitar 80 – 100 cm. Batang mangga berwarna keabu-abuan dengan kulit berbelah-belah tidak rata dan getah putih bening. Pohon mangga dapat bertahan hidup lebih dari 100 tahun. Sistem perakaran tanaman mangga terdiri dari akar tunggang yang kuat menghujam sebagai jangkar dan akar lateral di permukaan tanah. Bunga mangga adalah sempurna sehingga bunga jantan dan betina terdapat dalam satu tangkai bunga sehingga terjadi penyerbukan sendiri. Penyerbukan bunga mangga biasanya dibantu oleh serangga seperti kumbang, lebah madu dan angin.

Pohon mangga dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah dengan ketinggian 10 – 500m dpl. Pohon mangga tumbuh dan beradaptasi dengan baik pada sebagian besar jenis tanah terutama tanah yang gembur dengan PH 5 – 6 dengan drainase yang bagus Iklim yang diperlukan bagi pertumbuhannya ialah yang mempunyai masa kering sekitar 3 – 4 bulan dan mempunyai pengairan yang bagus.

Pada Umumnya mangga ditanam dengan jarak tanam 10 x 10 meter atau 12 x 12 meter. Dalam 1 Hektar lahan akan terisi 70 – 100 pohon. Populasi tanaman yang rendah ini menjadi salah satu penyebab rendahnya produktivitas tanaman mangga. Produktivitas tanaman mangga yang rendah ini juga disebabkan oleh kurangnya metode ilmiah dalam hal irigasi, pengelolaan hara yang kurang optimum dan efisien, manajemen pemeliharaan kebun yang belum benar dan kerusakan akibat serangan hama dan penyakit. Sistim budidaya tanam jarak rapat (UHDP) ini juga sudah mulai di terapkan untuk Budidaya Cengkeh dan Jeruk.

Budidaya Mangga Sistim Jarak Tanam Rapat

Budidaya Mangga Sistim Jarak Tanam Rapat

Budidaya Mangga Menggunakan Sistim Jarak Tanam Rapat (UHDP = Ultra High Density Planting)

Mangga juga bisa ditanam dengan jarak tanam yang rapat sehingga populasi tanaman bisa ditingkatkan. Sistem jarak tanam rapat ini dikenal dengan nama Ultra High Density Planting = UHDP). Beberapa manfaat sistim UHDP adalah:

  • Meningkatkan Populasi tanaman per satuan luas
  • Meningkatkan produktivitas hingga 2 – 3 kali
  • Mengurangi air yang digunakan untuk irigasi hingga 50%
  • Meningkatkan serapan pupuk oleh tanaman ketika fertigasi dipraktikkan
  • Memudahkan management pemeliharaan tanaman terutama pemangkasan (pruning) dan Pengendalian hama penyakit tanaman
  • Memudahkan prose panen dan pasca panen
  • Menghasilkan buah dengan kualitas dan ukuran yang lebih seragam

Negara yang sudah menerapkan budidaya mangga dengan system UHDP ini adalah Tiongkok dan India. Salah satu daerah perkebunan mangga dengan sistim UHDP di Tiongkok adalah di Chengbi, Yongle Town, Distrik Youjiang, Guangxi. Mangga ditanam dengan jarak tanam 3 m x 2,5 m. Dalam 1 hektare lahan akan berisi 1.333 pohon mangga. Kebun mangga Chengbi ini luasnya 2.400 hektare sehingga berpopulasi 3,19 juta pohon mangga. Ada sekitar 30 varietas mangga hasil grafting seperti tainong 1, jinhuang, yuwen, guifei, dan keitt di kebun itu. India juga mulai menerapkan system UHDP dalam budidaya mangga. Budidaya mangga system UHDP ini dikembangkan di daerah Andhra Pradesh, Bihar, Goa, Gujarat dll. Ada banyak varietas mangga yang ditanam seperti Alphonso, Alampur, Baneshan, Totapuri dll. Jarak tanam yang digunakan adalah 3 m x 2 m sehingga dalam 1 ha akan berisi sekitar 1.666 pohon mangga. Sistem penanaman ini membawa era baru penanaman mangga di India. Mangga tumbuh lebih cepat, Produktivitas meningkat dengan kualitas tinggi dan sangat menghemat lahan penanaman.

Budidaya Mangga Sistim Jarak Tanam Rapat

Budidaya Mangga Sistim Jarak Tanam Rapat

Budidaya Mangga Sistim Jarak Tanam Rapat (UHDP) di Indonesia

Bagaimana Budidaya Mangga sistim Jarak Tanam Rapat (UHDP) di Indonesia? Para Pekebun mangga di tanah air juga tidak mau ketinggalan dengan negara lain dalam mengembangkan budidaya mangga sistim UHDP.  Bapak H. Urip Ibrahim, pekebun mangga di Indramayu, Jawa Barat sudah mulai mengembangkan tanaman mangga dengan jarak tanam 2,5 m x 3 m sejak Oktober 2017. Mangga yang ditanam adalah Varietas Agrimania. Didalam kebun tersebut dilengkapi dengan system irigasi tetes (drip Irigation) lengkap dengan fertigasinya. Yusron Hadi Nugroho dari Kabupaten Batang, Jawa Tengah juga telah mencoba system UHDP di kebun mangganya. Dia menanam mangga varietas Kio Jay dengan jarak tanam 4 m x 2 m sehingga dalam 1 ha akan terisi 1.250 pohon. Beberapa varietas mangga dalam negeri yang berkarakter pendek dan cocok untuk UHDP yaitu agri gardina 45 dan marifta-01. Beberapa varietas komersial lainnya seperti arumanis, garifta dan gadung 21 juga bisa ditanam menggunakan teknik itu tetapi harus diikuti dengan pemangkasan yang intensif. Pemangkasan ini berguna untuk  mempertahankan sosok tanaman pendek dan bentuk kanopi yang baik.

Menghasilkan Buah Mangga Kualitas Premium dengan Tekhnik Budiday Mangga sistim UHDP

Budidaya mangga dengan mengadopsi sistem jarak tanam rapat (Ultra High Density Population) merupakan sebuah revolusi dalam produksi mangga. Sistim ini menandai era baru budidaya mangga di mana pohon mangga tumbuh cepat, Produktivitas lebih tinggi dan keperluan lahan lebih sempit. Sistem pertanaman itu merupakan metode pengelolaan tanaman secara terpadu melalui pengaturan jarak tanam rapat dan pembentukan arsitektur tanaman rendah. Kondisi tanaman dijaga dengan sangat baik dengan tinggi tanaman 2 meter.  Tujuannya adalah memudahkan management budidaya tanaman dan Proses pemanenan.

Kunci sukses teknik UHDP bergantung pada pemangkasan intensif dan modifikasi kanopi tanaman. Hal ini bertujuan agar intersepsi dan distribusi cahaya matahari merata ke semua bagian tanaman. Jumlah daun yang mendapat sinar matahari akan lebih banyak sehingga proses fotosintesis meningkat dan secara tidak langsung mendongkrak produksi per satuan luas (produktivitas meningkatSistim UHDP juga akan memperpendek masa persiapan reproduktif (gestation period) serta meningkatkan kualitas dan keseragaman buah (ukuran, bentuk, dan rasa). Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan budidaya mangga sistim UHDP adalah:

  • Tersedianya varietas mangga berkarakter rendah seperti Varietas Agri Gardina 45 dan Marifta-01
  • Jenis tanah dan tingkat kesuburan tanah yang akan ditanami
  • Sumber air yang tersedia
  • Pemangkasan dan pembentukan tajuk tanaman yang teratur dan terencana
  • Sistem Irigasi dan Fertigasi yang terintegrasi

Pemangkasan dan Pembentukan Tajuk Tanaman adalah kunci sistim UHDP

Budidaya mangga sistim UHDP sebaiknya menggunakan bibit mangga yang berasal dari cangkok. Hal ini disebabkan usia produksi bibit asal cangkok lebih cepat. Bibit juga bisa menggunakan bibit grafting dengan batang bawah dan batang atas (entres) dari varietas yang berkarakter pendek. Diperlukan tiang bambu sebagai penyangga Untuk menjaga agar tanaman tegak. Pemangkasan sangat penting dilakukan dan merupakan kegiatan vital dalam UHDP untuk menjaga tunas tetap berbuah dan membentuk kanopi. Ada dua jenis pemangkasan (pruning) yang harus dilakukan yaitu pemangkasan (pruning) untuk membentuk tajuk (kanopi) dan pemangkasan pemeliharaan untuk merangsang fase reproduktif.

  • Pemangkasan pertama dilakukan ketika tinggi tanaman sekitar 45—60 cm. Tunas utama dipotong 5—6 cm di bawah pucuk (kuncup) untuk merangsang pertumbuhan tunas samping (lateral). Upayakan tinggi tanaman sekitar 2 m dan pastikan tajuk antartanaman tidak bersentuhan. Untuk pemangkasan intensif, tetap mengikuti pola 1-3-9 seperti pada pertanaman konvensional.
  • Pemangkasan pemeliharaan dilakukan sesegera mungkin setelah panen, sebaiknya sebelum tunas muda mulai bermunculan. Pemangkasan ini biasanya dilakukan di awal musim penghujan dan di awal musim kemarau. Cabang tersier dipertahankan sedemikian rupa sehingga tinggi tanaman dapat dipertahankan pada 1,5 – 2.0 m dengan 10 —15 cabang tersier.

Bekas potongan atau pangkasan ditutup dengan pasta Bordeaux atau 2% tembaga oksiklorida (COC) suspensi agar batang tidak terinfeksi bakteri serta mengurangi laju penguapan. Sekitar satu bulan setelah pemangkasan, pengurangan tunas baru yang muncul perlu dilakukan untuk menghindari kelebihan tunas. Sisakan hanya 3 tunas terbaik untuk setiap cabangnya.

Budidaya Mangga Sistim Jarak Tanam Rapat

Budidaya Mangga Sistim Jarak Tanam Rapat

Management Irigasi dan Fertigasi sangat Diperlukan

Peningkatan populasi tanaman harus diimbangi dengan management budidaya yang tepat mulai dari persiapan lahan, persiapan bibit, Penanaman, pengairan dan pemupukan serta pengendalian hama dan penyakit tanaman mangga. Persiapan dilakukan dengan pembersihan lahan dan penentuan lubang tanam. Lubang tanam berukuran 60 × 60 × 60 cm digali 30 hari sebelum penanaman. Lapisan tanah atas dipisahkan dengan lapisan tanah bawah. Lubang dibiarkan terbuka selama 30 hari agar kemasaman tanahnya hilang. Seminggu sebelum penanaman, lubang tanam ditimbun kembali dengan tanah yang dicampur dengan pupuk kandang atau kompos sebanyak 20 – 30 kg dan 1 kg SP36 setiap lubang. Ketika menimbun lubang, tanah lapisan bawah dimasukkan lebih dahulu sehingga susunannya seperti semula.

Faktor yang tak kalah penting adalah Pengelolaan budidaya yang tepat mencakup pengairan dengan irigasi tetes dan pemupukan menggunakan sistem fertigasi. Volume air Irigasi dan pupuk yang diberikan disesuaikan dengan fase pertumbuhan dan kebutuhan tanaman. Dengan system ini penggunaan air dan pupuk menjadi lebih efektif dan efisien sehingga tanaman bisa tumbuh maksimal. Komponen lain pendukung suksesnya sistim UHDP adalah penggunaan bioregulator untuk merangsang pembungaan dan mengurangi terjadinya kerontokan buah (fruit drop). Penggunaan teknologi untuk mendukung Budidaya mangga siteim UHDP ini memerlukan tambahan investasi yang cukup tinggi. Meski berbiaya tinggi pada awal penanaman, beberapa referensi menyatakan keuntungan yang diperoleh mencapai lebih dari 100%. Beberapa negara di dunia seperti Tiongkok dan India sudah menerapkan UHDP karena diyakini mampu meningkatkan produktivitas tanaman per satuan luas baik secara kuantitas maupun kualitas.